Setelah menjalani beasiswa selama dua tahun di Oxford, Bill Clinton kembali ke Amerika. Karena ingin menjadi politikus, ia lalu melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Yale, tempat Hillary belajar. Di Amerika, karier sebagai politikus umumnya memang dimulai dengan menjadi pengacara. Di Yale, Bill merupakan adik kelas Hillary. Hillary setahun lebih dulu masuk Yale.
Kehadiran Bill yang ramah, luwes, cerdas, dan tampan langsung menarik perhatian para mahasiswa Yale. Apalagi saat itu ia baru lulus dari Oxford, yang tak kalah bergengsi.
Dalam memoarnya, Hillary menulis, “Kehadiran Bill, ‘Si Orang Selatan’ menjadi bisik-bisik di kalangan mahasiswi. Aku jadi penasaran. Suatu kali aku melihatnya sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya di halaman kampus. Ternyata, dia lebih mirip dengan orang Viking ketimbang seorang lulusan Oxford. Wajahnya penuh bulu, dengan rambut gondrong dan jenggot yang lebat. Sekilas aku mendengar pembicaraannya. Ternyata, Bill sedang mempromosikan buah melon yang dihasilkan Arkansas, yang ukurannya memang terkenal besar-besar.”
Sejak pertama kali melihat Hillary di suatu mata kuliah (mereka mengikuti beberapa kuliah yang sama), Bill mengaku langsung tertarik melihat gadis yang dinilainya cuek tapi menarik tersebut. Saat itu, dandanan Hillary memang sembarangan, khas dandanan ‘flower generation’ yang seperti gipsi. Rambutnya yang lurus terurai berantakan. Kacamata bertangkai tulang yang tebal menghias wajahnya. Celana jins dan sweater lusuh, membalut tubuhnya yang ‘tipis’ dengan dada rata. Kalau Bill tertarik pada Hillary, pastilah bukan secara fisik.
“Hillary itu seorang bintang di kampus. Banyak yang mengaguminya, tapi ada juga yang menganggapnya ‘berbahaya’, karena dia terlalu cerdas untuk seorang wanita. Konon, wanita cerdas biasanya suka mendominasi dan mengintimidasi laki-laki. Tapi, justru itulah yang membuatku tertarik padanya, dan ingin mengenalnya lebih jauh,” tulis Bill dalam memoarnya.
Pada suatu hari, keduanya sedang berada di perpustakaan kampus. Bill di satu sudut dengan seorang temannya, Jeffrey Gleckel, dan Hillary di sudut yang lain. Namun, sepanjang pembicaraannya dengan Gleckel, mata Bill terus mencuri-curi pandang ke arah Hillary, demikian juga sebaliknya. Akhirnya Hillary menutup buku yang sedang dibacanya, menghampiri Bill, menyodorkan tangannya, dan berkata, “Dari tadi kau terus memandangiku, dan aku juga begitu. Artinya kita harus berkenalan. Namaku Hillary Rodham!”
Bill terkesima. Ia yang biasanya luwes dan ‘ramai’, tiba-tiba menjadi mati kutu dan salah tingkah. “Aku nyaris tak sadar ketika mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya. Bahkan, suaraku nyaris tak terdengar ketika menyebut namaku sendiri,” tulis Bill.
Sejak itu, keduanya tak terpisahkan lagi. Selain sama-sama cerdas, keduanya juga memiliki ambisi yang sama, yaitu menjadi politikus ulung. Keduanya lalu menyewa sebuah rumah kecil dekat kampus Yale di New Haven, New York, dan hidup bersama di sana. Perlahan-lahan, Hillary mengubah haluan politiknya yang semula republik menjadi seorang demokrat.
Setelah lulus dari Yale, Bill harus kembali ke Arkansas sesuai cita-citanya, sementara Hillary sudah ‘diperebutkan’ oleh berbagai biro pengacara terkenal, baik di New York maupun di Chicago.
“Yang paling kuinginkan saat itu,” tulis Bill dalam memoarnya, “adalah secepatnya mengajaknya menikah dan ikut denganku ke Arkansas. Tapi, itu adalah tindakan yang egois. Hillary punya masa depan yang cemerlang di kota-kota besar, dan aku tak sampai hati memaksanya ikut denganku ke Arkansas.”
Sebelum kembali ke Arkansas, Bill mengajak Hillary berlibur ke Eropa. Saat mereka sedang berjalan-jalan ke Chelsea, sebuah wilayah cantik dekat London, tanpa sadar Bill menyenandungkan lagu Chelsea Morning. Mereka pun bersepakat, bila kelak mereka punya anak perempuan, akan diberi nama Chelsea.
Sepulang dari Eropa, Bill mengajak Hillary mengunjungi Arkansas dan memperkenalkan sang kekasih kepada ibunya. Sebelumnya, Hillary sudah mengajak Bill ke rumahnya di Chicago dan memperkenalkannya kepada orang tuanya.
Bill secara resmi melamar Hillary, namun waktu itu Hillary tak bisa menjawab. Setelah itu, sekembali dari Arkansas, beberapa kali Bill melamarnya lagi, tapi lagi-lagi Hillary belum bisa memberi jawaban. Karena merasa sulit berpisah dari Hillary, Bill bahkan menunda kepulangannya ke Arkansas. Padahal, saat itu ia sudah berkali-kali diminta pulang ke Arkansas untuk menjadi koordinator kampanye Senator McGovern di daerah Selatan.
“Saat itu betul-betul merupakan masa-masa tersulit bagiku. Aku sangat mencintai Bill dan tak ingin kehilangan dia, tapi aku sedang berada persis di depan pintu cita-citaku. Sungguh, itu sebuah dilema yang sangat menyakitkan,” tulis Hillary dalam memoarnya.
Sejak itu, Bill tidak lagi mengulang lamarannya. Ia membiarkan Hillary menentukan pilihannya dengan tenang, tanpa didesak-desak. “Namun begitu, sesungguhnya aku merasa sangat ketakutan. Takut kalau akhirnya bukan aku yang dipilihnya,” tulis Bill.
Apa boleh buat, ketika saatnya tiba, mereka pun terpaksa berpisah jarak. Bill kembali ke Arkansas dan menjadi pengajar di Fakultas Hukum Universitas Arkansas di Fayetteville —ibu kota Arkansas— lalu maju sebagai calon anggota legislatif dari Partai Demokrat. Sedangkan Hillary merintis karier sebagai pengacara di sebuah biro hukum terkenal di Massachusetts.
Namun, hati keduanya ternyata memang tak bisa dipisahkan. Bill dan Hillary senantiasa diliputi rasa rindu dan tak pernah putus kontak. Setahun kemudian, Hillary tiba-tiba datang ke Arkansas. Alasan yang dikemukakannya hanyalah karena rindu, tapi sebenarnya ia bermaksud menjajaki kemungkinan apa saja yang bisa ia lakukan bila menetap di Arkansas. Ternyata, ia diterima mengajar di Universitas Arkansas, sekaligus bergabung dengan sebuah biro hukum setempat.
Tentu saja Bill merasa sangat bahagia. Bill yang saat itu sudah menjadi anggota Kongres, segera membeli sebuah rumah mungil di Fayetteville. Selanjutnya ia mengulang lamarannya, dan kali ini Hillary menjawab ‘ya’ dengan mantap. Keduanya menikah pada 11 Oktober 1975, di ruang tamu rumah baru mereka. Lima tahun kemudian, 27 Februari 1980, putri mereka pun lahir. Bayi perempuan itu diberi nama Chelsea Victoria.
Siapa pun tahu, Hillary adalah seorang feminis. Secara konsisten ia memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi kaum wanita, baik di tengah masyarakat maupun di dalam keluarga. Hillary juga seorang wanita yang cerdas, berpendidikan tinggi, dan mampu mandiri secara finasial. Namun, lepas dari dia seorang feminis atau konservatif, wanita mana yang tak terluka dan terhina bila sang suami mengkhianati dan membagi cintanya pada wanita lain?
Tetapi, mengapa Hillary dengan mudah bisa memaafkan Bill Clinton setelah sang suami ketahuan berselingkuh dengan sejumlah wanita? Bukan cuma itu, Hillary bahkan dengan tegar dan gagah membela suaminya di tengah serbuan olok-olok saru dan tekanan politis akibat skandal seks yang dilakukan suaminya dengan seorang gadis muda pegawai honorer di Gedung Putih bernama Monica Lewinski.
Ia semula menganggap bahwa sensasi-sensasi itu sengaja dilempar oleh kubu oposan untuk menjatuhkan suaminya.
“Aku merasa sudah mengenalnya luar-dalam. Kadang-kadang Bill memang suka bersikap ‘terlalu ramah’ pada orang lain, termasuk pada kaum wanita. Sering kali aku menegurnya, karena sikapnya itu bisa ditafsirkan macam-macam, meskipun itu memang sikap naturalnya. Aku begitu percaya pada Bill. Aku tak percaya bahwa dia tega membohongiku. Tapi, sekali itu ternyata aku keliru,” tulis Hillary.
Ketika kasus Monica Lewinski meledak, Bill memang bersikeras menyangkalnya. Bukan hanya kepada Hillary, tapi juga kepada orang-orang kepercayaannya, termasuk para penasihat politiknya. Seperti biasa, Hillary lebih percaya kepada suaminya.
Dalam memoarnya, Bill mengakui bahwa selama berhari-hari ia tak bisa tidur. Bukan karena ancaman impeachment itu (karena ia merasa tak pernah meminta Monica melakukan sumpah palsu), melainkan karena ia membayangkan bahwa apabila ia diajukan ke pengadilan, maka Monica pun pasti akan diajukan sebagai saksi. Berada di bawah sumpah, sudah pasti Monica akan membeberkan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Membayangkan hal itu, Bill akhirnya tak tahan lagi.
“Pada pukul dua pagi, aku membangunkan Hillary. Untuk sekian lama aku tak bisa bicara. Aku tak sampai hati melihat sorot matanya yang kebingungan karena tiba-tiba kubangunkan di tengah malam. Akhirnya aku menguatkan hati. Kukatakan padanya bahwa selama ini aku telah membohonginya. Bahwa sebenarnya aku memang pernah punya hubungan yang tak semestinya dengan Monica Lewinski. Hillary tampak seperti orang yang baru saja ditinju mukanya,” tulis Bill dalam memoarnya.
Sejauh mana yang disebutnya sebagai ‘indecent relationship’ (hubungan yang tak senonoh) dengan Monica, ia tak menjelaskannya lebih jauh, demikian juga Hillary. Hillary hanya mengatakan dalam bukunya bahwa dalam kemarahannya itu, ia sengaja membalaskan dendamnya dengan memaksa suaminya untuk mengatakan sendiri semua itu kepada putri mereka, Chelsea, dan Bill langsung menangis.
Itulah yang paling ditakuti Bill: harus bertanggung jawab terhadap putrinya. “Aku takut kehilangan cinta dan respek dari putriku sendiri,” tulis Bill.
Lantas, bagaimana Bill dan Hillary memperbaiki hubungan suami-istri mereka? Baik Bill maupun Hillary mengakui bahwa hal itu tidaklah mudah. Selama setahun lebih mereka rutin menjalani konsultasi, baik ke konsultan perkawinan maupun ke para pendeta.
“Terus terang, sangat sulit membangun kembali kepercayaan yang sudah telanjur dikhianati. Tapi, kami menyadari bahwa keutuhan keluarga sangatlah berarti bagi kami berdua. Pada dasarnya kami berdua masih saling sangat mencintai dan saling membutuhkan. Kami juga tak ingin Chelsea harus menjadi korban kalau kami berdua berpisah. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, demikian pula suamiku dan aku sendiri, meski dalam bentuk yang berbeda. Cinta adalah juga kesediaan untuk mmemaafkan. Aku bersyukur bahwa pada akhirnya kami bisa melewati semua cobaan berat itu, ” tulis Hillary.
*
**Berbagai Sumber.
***Buat gue, hampir seperti pasangan Pierre dan Marrie Currie yang sukses dalam bidang fisika dan sangat berpengaruh sebagai ilmuan, pasangan Bill-Hillary ini adalah pasangan yang brilian dalam bidang politik dan pemerintahan. Walaupun ada sedikit bagian yang nggak gue suka dari love story di atas, yaitu skandal perselingkuhan Bill, tapi gue tetep ngefans sama pasangan politisi ini. Mereka berdua benar-benar bersimbiosis mutualisme, dan over all, selama ini mereka udah jadi partner hidup yang hebat dan patut dicontoh. ;D
Dan gara-gara baca biografinya, meskipun singkat, gue semakin ngefans sama Hillary Clinton. Memoar-memoar lengkap Hillary Clinton ada dalam bukunya yang berjudul Living History, sementara Bill Clinton dalam buku yang berjudul My Life.
Pasti lebih menarik ya, kalo bisa punya dan baca bukunya langsung? :D
Sayangnya gue gak punya ni.
Ada yang mau minjemin? :p :p
sahal said kalo soal hikmahnya, anda pasti bisa merasakan sendiri tentunya



0 comments:
Post a Comment